Sadar Investasi Sejak Dini

Mengapa perlu investasi sejak dini?

Ide tersebut muncul terutama ketika memperhatikan para pensiunan, terutama dari PNS, yang saya asumsikan seperti memulai hidup baru yang berat (memang tidak semua pensiunan). Dengan rentang usia pensiun PNS antara 58 – 65 tahun, tentu masih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi di sisa umurnya.  Idealnya, ketika purna tugas, para pensiunan dapat menikmati hidup di rumah dan berkumpul dengan keluarga dekat dengan penuh kegembiraan, atau dapat liburan kemana-pun dengan bebas, bukan sebaliknya, yang masih harus berjuang memenuhi kebutuhan diri dan keluarga karena uang pensiun jauh dari cukup.

Masa pensiun identik dengan penurunan kekuatan fisik, seperti mulai muncul masalah kesehatan karena faktor umur, dan ditambah dengan masalah berkurangnya penghasilan secara drastis (apabila sumber penghasilan selama ini hanya dari gaji sebagai PNS). Disisi lain, sangat banyak kebutuhan yang mendesak untuk dipenuhi, misalnya kebutuhan konsumsi dan sosial sehari-hari; kontrol dan perawatan kesehatan; atau bahkan masih harus membiayai sekolah anak-anak; atau yang terparah, tempat tinggal masih menyewa/mengontrak.

Para pensiunan mungkin tidak akan menghadapi masalah pelik jika dalam situasi, seperti tempat tinggal milik sendiri dan pasangannya masih berpenghasilan cukup; atau anak-anaknya sudah mandiri & mau/mampu menanggung hidupnya; atau sudah memiliki usaha/bisnis sampingan yang menjanjikan; atau ada simpanan dalam bentuk tabungan/deposito/investasi yang memberikan imbalan bunga rutin yang cukup.

Namun, pertanyaannya, berapa banyak pensiunan dengan kondisi seperti itu?.

Bentuk Investasi

Idealnya, gaya hidup ketika pensiun nanti sama dengan gaya hidup saat masih kuat bekerja seperti sekarang. Artinya, masih dapat berlibur, mampu beli barang sesuai keinginan, tidak merepotkan anak/keluarga (bukan menjadi generasi sandwich), atau masih kuat menjalani aktivitas fisik.

Saya berpendapat bahwa investasi mutlak pertama kali adalah rumah atau tempat tinggal. Tidak peduli dengan bentuk, keluasan dan jarak tempat tinggal dari fasilitas umum, yang terpenting bahwa status tempat tinggal tersebut sebagai milik pribadi (tidak menyewa atau mengontrak). Tahap berikutnya adalah memikirkan dan melakukan investasi lain agar menjadi pensiunan bahagia.

Saya sepakat dengan berbagai opini bahwa ada berbagai bentuk investasi untuk diri, misalnya investasi kemampuan fisik dengan rajin olah raga, investasi otak dengan kursus yang applicable, atau melanjutkan pendidikan setinggi mungkin, dan investasi finansial dalam bentuk tabungan. Bentuk tabungan itu-pun berbagai macam, bisa menabung aset tetap (tanah dan/atau bangunan) atau bentuk aset lain, misalnya tabungan uang/emas/saham, atau deposito, ORI, & reksadana.

Investasi (menabung) Emas

Saya berpendapat bahwa Investasi yang ideal adalah properti tanah dan/atau bangunan, seperti tanah kosong, rumah, apartemen dan jenis aset tetap lainnya karena supply-nya sangat terbatas, tetapi demand-nya sangat banyak. Namun, bentuk investasi tersebut memerlukan jumlah uang yang tidak sedikit, dan tidak semua orang bisa melakukannya. Ada banyak alternatif investasi yang tidak memerlukan nominal sangat banyak sebagaimana jika membeli aset properti tetap diatas, misalnya investasi dalam bentuk tabungan emas.

Tabungan emas menarik karena daya tahannya terhadap ancaman inflasi. Sejak zaman dahulu, nilai intrinsik emas stabil sehingga cocok apabila disimpan sebagai tabungan. Karena faktor inflasi-lah, tabungan dalam bentuk uang di bank tidak menjadi investasi yang ideal karena justru uang kita akan cenderung menyusut nilainya. Memang emas bukan piranti investasi, tetapi sebagai safe heaven, yaitu pelindung pemiliknya dari krisis keuangan. Berbagai keuntungan menabung emas sudah banyak dibahas, misalnya mudah membeli dan menjual (buyback), harga cenderung naik terus (apabila turun, tidak signifikan), atau dapat berfungsi sebagai alat tukar dan pembayaran.

Pilihan tempat menambung emas yang populer adalah melalui butik emas Antam (Aneka Tambang) dan PT Pegadaian. Butik emas Antam hanya ada di beberapa kota besar saja, sedangkan Kantor Pegadaian relatif lebih mudah ditemui sampai kota kecil.

Konsepnya, ketika menabung emas Antam, kita mengakses situs brankaslm berdasarkan username dan password yang diberikan. Di situs tersebut, kita bisa transaksi membeli atau buyback secara online, dan tabungan kita dalam bentuk gram (gr). Atas jasa penabungan tersebut, kita dikenakan biaya administrasi tahunan yang besarannya tergantung jumlah gram tabungan kita, misalnya jika simpanan emas kita sampai dengan 250 gram, kita dikenakan biaya administrasi tahunan sebesar Rp 150,000 (bisa di cek di situs brankaslm.comhttps://brankaslm.com/antam/folders/faq-brankaslm.pdf).  Pendapat saya, kunci menabung dalam brankaslm tersebut adalah bukan besarnya nominal yang kita beli dan tabung, tetapi konsistensi untuk menyisihkan uang dan membeli emas secara rutin setiap bulan. Jangan lupa, bahwa menabung emas adalah untuk jangka panjang, setidaknya 5 tahun, untuk melihat dampak dari hasil menabung.  

PT Pegadaian juga menawarkan tabungan sejenis. Kalau pembelian melalui brankaslm minimal 1 gram, maka PT Pegadaian menawarkan pembelian dengan jumlah rupiah minimal, misalnya dengan uang Rp 5,000 pun sudah bisa mulai menabung emas. Selain itu, jika di brankaslm, kita diberikan kartu dan akses ke situs mereka sebagai bukti sebagi penabung, PT Pegadaian memberikan buku tabungan fisik kepada para penabung emas. Biaya administrasi tahunan pun jauh lebih murah di PT Pegadaian dibandingkan di brankaslm (sekitar Rp 30,000/tahun).

Selain PT Antam dan PT Pegadaian, sebenarnya banyak unit lain yang menawarkan tabungan emas, misalnya marketplace Tokopedia atau Bukalapak, bahkan bank-bank tertentu juga menawarkan tabungan emas, atau di tempat lain secara online.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *