Review Jurnal “Micro-Foundations Of Firm-Specific Human Capital: When Do Employees Perceive Their Skills To Be Firm-Specific?”

Judul: Micro-Foundations Of Firm-Specific Human Capital: When Do Employees Perceive Their Skills To Be Firm-Specific?
Penulis/Peneliti: Joseph Raffiee & Russell Coff
Publikasi: Academy of Management Journal 2016, Vol. 59, No. 3, 766–790

ISU – ISU POKOK

  1. Sesuai teori human capital, konsep Firm-Specific Human Capital (FSHC) penting dalam menciptakan dan mempertahankan keunggulan kompetitif perusahaan;
  2. Meskipun sebagai konstruksi kunci dalam perusahaan, peneliti hanya mengetahui sedikit tentang kapan karyawan benar-benar menganggap bahwa keterampilannya spesifik untuk perusahaan;
  3. Isu bahwa karyawan cenderung resisten untuk melakukan investasi keterampilan khusus untuk perusahaan;
  4. Isu sinkronisasi antara teori strategi, persepsi karyawan, efisiensi informasi, dan FSHC.

VARIABEL DAN METODOLOGI

  1. Pengujian hipotesis menggunakan dua sumber data independen, yaitu 1). data dari The Korean Labor and Income Panel Study (KLIPS) dengan sampel akhir berupa panel yang terdiri dari 5.419 individu dan 16.580 observasi per tahun; dan 2). data dari National Longitudinal Survey of Youth, 1979 cohort (NLSY79) yang dikelola oleh Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat dengan sampel akhir berupa data cross-section 2.438 individu;
  2. Variabel dependennya adalah perceived firm-specific human capital;
  3. Variabel independennya adalah organizational tenure, OJT, organizational commitment (job satisfaction);
  4. Variabel kontrolnya adalah gender, age, education, managerial, occupations, government occupations, work experience, firm size, industry, location & year;
  5. Menggunakan analisis regresi & robustness checks.

TEMUAN KUNCI

  1. Komitmen organisasi dan masa kerja di organisasi secara negatif terkait dengan persepsi karyawan atas kekhususan perusahaan;
  2. On the Job Training tidak terkait dengan kekhususan perusahaan;
  3. Karyawan yang memiliki masa kerja lebih lama, dan lebih berkomitmen pada organisasi cenderung menganggap human capital-nya kurang spesifik untuk perusahaan;
  4. Jadi, peneliti strategi SDM mungkin perlu memikirkan kembali peran FSHC dalam menciptakan dan mempertahankan keunggulan kompetitif perusahaan karena FSHC, seperti yang dirasakan oleh karyawan, dapat mendorong perilaku dengan cara yang sangat berbeda dari prediksi teori yang ada.

TELAAH TAMBAHAN

  1. Isu human capital selalu menarik sejak organisasi sadar posisi SDM sebagai mitra strategis bagi perusahaan dalam mencapai tujuannya;
  2. Berdasarkan literatur yang digunakan dalam penelitian, kita memperoleh pengetahuan baru mengenai efisiensi informasi dan persepsi para karyawan;
  3. Hasil penelitian menjadi menarik karena cenderung kontras dengan literatur dan teori yang sudah ada sehingga menarik untuk dilakukan penelitian ulang dengan sampel yang berbeda;
  4. Sampel di Korea Selatan dan Amerika Serikat memiliki kemiripan dalam hal struktur pasar tenaga kerja, serta desain dan struktur lembaga survei sehingga hasil penelitian perlu diuji ulang dengan dua sampel yang jelas berbeda;
  5. Hasil penelitian membuktikan bahwa dunia SDM dalam organisasi dimungkinkan sangat dinamis dengan mempertimbangkan konteks organisasi dan negara.

PERTANYAAN

Dalam rangka akselerasi pencapaian tujuan strategis, salah satu kebijakan penting perusahaan adalah melaksanakan pelatihan intensif khususnya terkait tugas pokok dan fungsi inti perusahaan terhadap karyawan baru dan/atau karyawan lama. Berdasarkan asumsi dan teori yang berkembang, karyawan cenderung enggan berlatih untuk membangun dan mengembangkan keterampilan khusus di perusahaan karena pertimbangan mobilitas ke perusahaan lain. Akibatnya, kompetensi karyawan sesuai kebutuhan perusahaan tidak dapat dimaksimalkan dalam rangka menunjang keunggulan kompetitif perusahaan. Bagaimana pandangan Saudara atas kasus tersebut?

#Opini Pribadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *