Pemahaman Materi Sains Keperilakuan

1. Topik “apakah manusia bebas memilih”
Kebebasan menunjukkan keberadaan manusia sebagai individu, dan maknanya berubah seiiring kesadaran manusia sebagai makhluk merdeka, dan berbeda dengan yang lain. Tetapi, kebebasan sebenarnya tidak pernah ada dalam kehidupan riil manusia. Bahkan, manusia cenderung tidak konsisten dalam kebebasan dimana satu sisi ingin diberikan kebebasan seluasnya sesuai impian menjadi manusia bebas sehingga bebas melakukan apa pun, tetapi disisi lain, manusia memiliki keinginan untuk meninggalkan kebebasannya karena merasa asing, tidak aman dan tidak berdaya. Konsep diatas juga relevan dengan kondisi sekarang yang selalu mengedepankan masalah Hak Asasi Manusia (HAM) dalam berbagai peristiwa yang menyangkut individua tau kelompok. Tetapi, isu HAM cenderung disalahgunakan oleh sekelompok orang untuk berbuat yang cenderung negatif dengan berlindung dibawah HAM, misalnya gerakan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual & Transgender).

Kontribusi Utama:
Pandangan utama diatas memberikan justifikasi bahwa pada dasarnya, setiap manusia tidak akan pernah merasa puas, dan cenderung mencari tahu peluang lain untuk memenuhi keingintahuannya. Oleh karena itu, manusia seharusnya realistis dengan kondisi yang ada saat ini karena kebebasan setiap manusia akan dibatasi oleh hak-hak dan kebebasan manusia lain.

2.Topik “persimpangan dan perbatasan”
Ilmu dan teori perilaku manusia telah populer sebagai pendekatan alternatif dan inovatif dalam banyak disiplin ilmu sehingga banyak akademisi dan praktisi yang berminat menerapkannya dalam penelitian. Meskipun demikian, literatur evolusioner tentang perilaku manusia menunjukkan kebingungan, dan masih ada pemahaman yang terbatas tentang teori yang dapat dianggap sebagai teori perilaku, dan dalam bidang penelitian atau disiplin ilmu apa teori tersebut dapat diterapkan. Berkaitan dengan itu, dalam rangka meningkatkan pemahaman atas ruang lingkup teori perilaku, sangat penting penyeragaman istilah dengan melakukan klasifikasi dan pengelompokkan secara sistematis literatur berdasarkan fokusnya.

Kontribusi Utama:
Pandangan utama tersebut memberikan manfaat mengurangi kebingungan para peneliti dan akademisi tentang teori perilaku manusia melalui tinjauan pustaka yang sistematis dengan memetakan perkembangan historis teori untuk mengidentifikasi teori perilaku manusia secara umum yang dapat diterapkan pada semua disiplin ilmu

3.Topik “rasionalitas, kreativitas, dan pengambilan keputusan”
Perilaku memilih yang rasional, dan pengambilan keputusan harus memperhatikan asumsi substantif. Selain itu, perilaku pilihan yang rasional, dan pengambilan keputusan dapat berhubungan dengan kreativitas seorang individu. Selain itu, kreativitas individu dapat ditentukan oleh kekuatan lingkungan sosial, motivasi intrinsik, dan orientasi belajar individu, serta kepercayaan dan proses pengambilan keputusan yang fleksibel.

Kontribusi Utama:
Bahwa setiap individu harus memiliki keyakinan dan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan dalam memilih dan mengambil keputusan rasional. Selain itu, isu kreativitas merupakan hal yang sangat penting dalam suatu organisasi karena anggota organisasi yang kreatif umumnya mendorong peningkatan kreativitas organisasi, dengan syarat organisasi memfasilitasi daya kreativitas anggotanya. Dengan demikian, penting bagi organisasi membangun budaya kreativitas, memotivasi, dan memastikan lingkungan mendukung pembelajaran berkelanjutan.


4.Topik “moral, nilai dan kepribadian”

Terdapat berbagai pendapat mengenai istilah nilai, serta hubungan antara nilai, tindakan dan perilaku. Tetapi, secara umum, nilai dapat dilihat sebagai sesuatu yang absolut, melekat pada objek, hadir dalam diri manusia, dan identik dengan perilakunya. Berikutnya, perkembangan moral seseorang dalam bentuk peningkatan pengetahuan tentang nilai-nilai budaya yang mengarah pada relativitas etis, dan transformasi  struktur pemikiran seseorang. Perkembangan moral tidak hanya urusan eksklusif keluarga dan agama, tetapi juga melalui pendidikan.

Kontribusi Utama:
Berdasarkan ulasan artikel, konsep nilai akan selalu berkembang sesuai perkembangan budaya dan pengetahuan masyarakat. Suatu hal yang semula menjadi nilai yang dianut masyarakat atau seseorang, dimungkinkan berubah seiiring perkembangan jaman di masa berikutnya sehingga setiap individu harus mampu beradaptasi dengan nilai yang berkembang di masyarakat. Berkaitan dengan moral, idealnya, pendidikan moral menjadi domain utama keluarga dengan pembekalan dari orang tua berdasarkan nilai-nilai agama dan standar moral yang berlaku, tetapi peran sekolah tidak dapat diabaikan sebagai fasilitator tambahan dalam rangka penguatan pengembangan moral siswa, dan juga nilai-nilai dalam berinteranksi dengan orang lain/lingkungan.

5.Topik “aksi dan agensi”
Agen dapat dimaknai sebagai manusia atau aktor yang memiliki posisi sentral dalam banyak teori sosial. Dalam konsep sosiologis, ketika seorang manusia bertindak, maka dapat dianggap sebagai pelaksanaan dari suatu pilihan atau sebagai akibat dari suatu sebab. Meskipun agensi, struktur sosial, dan budaya sering dikatakan kontradiksi dan bersifat ambiguitas, sebenarnya ada hubungan satu sama lain. Selanjutnya, orang harus lebih memperhatikan penggunaan istilah dan konseptualisasi struktur, agensi, dan budaya sebagai hal yang penting dalam menyusun cara memahami dan berperilaku sesuai realitas maupun dalam pelaksanaan penelitian empiris.

Kontribusi Utama:
Berdasarkan artikel, sangat penting menggunakan bahasan metafora dalam penelitian untuk mengilustrasikan masalah penelitian sehingga memudahkan pemahaman bagi semua yang berkepentingan, misalnya penggunaan bahasa metafora “red herring” dalam artikel “Agency” as a Red Herring in Social Theory”. Berikutnya, kontradiksi antara struktur sosial, budaya dan agensi dipecahkan dengan menawarkan konseptualisasi pemahaman atas variabel struktur sosial, budaya dan agensi untuk meminimalkan kebingungan dan ambiguitas. Dengan demikian, dapat mendorong intensitas penelitian karena pemahaman yang seragam atas variabel dalam struktur sosial, budaya dan agensi.

6.Topik “konteks, budaya dan perkembangan manusia”
Perilaku individu dapat dijelaskan oleh sumber utama, yaitu sifat dasar manusia (melalui proses psikologis universal), budaya (melalui peran sosial dan interaksi sifat dasar manusia), dan kepribadian (melalui identitas peran individu) sehingga perilaku individu adalah produk interaksi antara ketiganya dan dimoderasi oleh konteks situasional. Selanjutnya, dalam konsep perkembangan manusia, setiap budaya menghasilkan folk psychology dalam bentuk narasi tentang orang, bagaimana dan mengapa bertindak, serta bagaimana menghadapi masalah sehingga menjadi panduan dalam memahami dunia sosial sekitar, dan bagaimana menginterpretasi dunia.

Kontribusi Utama:
Berdasarkan artikel, pemahaman yang didapat adalah bahwa tidak ada cara dan metode tunggal terbaik dalam memahami sifat manusia, serta cara terbaik untuk mendapatkan pengetahuan tentang umat manusia adalah menggunakan metode komparatif, misalnya perbandingan dewasa dan belum dewasa, skala spesies lain, budaya, perangkat buatan, dan perbandingan manusia dengan kenyataan sehari-hari. Selanjutnya, terdapat pemahaman lain bahwa kecerdasan manusia dalam ekspresi diri lebih awal diranah sosial daripada diranah fisik.

7.Topik “pandangan lintas budaya”
Suatu disiplin ilmu sering menggunakan bidang disiplin lain untuk membantu pemodelan dan memperkaya penelitian. Sehubungan dengan itu, tindakan tersebut rentan mendapatkan kritik melalui pengujian pemanfaatan dan landasan teoritis yang digunakan. Namun demikian, dengan cara tersebut, teori berbagai lintas disiplin ilmu akan semakin berkembang karena proses mengkritisi dan menjawab kritikan tersebut. Berikutnya, dalam rangka pemahaman lintas budaya, diusulkan pendekatan intersubjektif sebagai pendekatan baru untuk memahami peran yang dimainkan budaya dalam perilaku manusia dimana dalam pendekatan tersebut, persepsi intersubjektif memediasi efek ekologi pada respon dan adaptasi individu. Selanjutnya, budaya dapat dipahami dengan pendekatan berorientasi kognitif, social collective dan pendekatan neuroscience.

Kontribusi Utama:
Bahwa kerjasama lintas disiplin ilmu sangat penting karena dapat memperkaya keilmuan. Selain itu, dengan penggunaan teori dari disiplin ilmu lain, mendorong saling kritis, berlanjut saling jawab sehingga ilmu semakin berkembang (tidak terjebak dalam pemahaman atas ilmu sendiri). Berikutnya, sesuai tema lintas budaya, bahwa individu akan mengikuti nilai dan keyakinan yang menjadi kesepakatan bersama dalam masyarakat daripada nilai dan keyakinan pribadi sehingga dapat menjadi pedoman setiap individu apabila masuk dalam komunitas tertentu. Selanjutnya, melalui artikel, pengetahuan tambahan diperoleh mengenai budaya asing sehingga mendapat pembelajaran budaya berbeda, yang mungkin dapat dimanfaatkan sebagai bahan masukan apabila akan meneliti tentang budaya kelompok/masyarakat




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *